Biji Salak Dibuang? Ternyata Dapat Diolah Menjadi Minuman

Menikmati buah salak yang manis dengan tekstur khas, sedikit berair dan crunchy, daging buah salak berakhir dengan indah di perut kita. Berbeda nasib dengan kulit dan bijinya, sering berakhir tragis di tempat sampah. Beberapa orang dengan kreativitas tinggi merubah nasib tragis biji salak tersebut menjadi minuman berkhasiat pengganti kopi. Kopi biji salak, begitulah minuman ini dikenal, meski sama sekali tidak ada campuran serbuk kopi sedikit pun di dalamnya. Istilah kopi ini disematkan karena kesamaan cara menikmatinya dengan minuman kopi yang berasal dari biji buah kopi. Berbeda dengan kopi, minuman biji salak ini minim kadar kafein dan aman dikonsumsi oleh penderita sakit maag.

Meskipun belum ada penelitian ilmiah resmi dari badan penelitian tertentu, minuman ini dipercayai masyarakat memiliki beberapa khasiat, diantaranya menurunkan tekanan darah tinggi dan menyembuhkan asam urat.

Tercatat ada beberapa daerah di Indonesia yang sudah mengolah biji salak menjadi serbuk minuman dan menjadi industri rumah tangga yang menghasilkan keuntungan.

1. Tapanuli Selatan

Tapanuli Selatan dikenal sebagai penghasil salak terbesar di Sumatera Utara. Tepatnya di desa Parsalakan, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan, banyak industri rumahan yang mengolah biji salak menjadi kopi. Saking terkenalnya minuman kopi ini, sudah dianggap menjadi minuman khas Tapanuli Selatan. Satu kemasan serbuk biji salak ini dijual seharga Rp. 50.000,-. Kita bisa mendapatkannya di swalayan-swalayan di sekitar Tapanuli Selatan.

2. Sleman

Di wilayah Sleman, pengolahan biji salak menjadi bahan minuman dilakukan di Dusun Donoasih, Desa Donokerto, Kecamatan Turi Kabupaten Sleman. Desa ini memang dikenal sebagai penghasil buah salak pondoh, selani diolah menjadi minuman pengganti kopi, buah salak diolah menjadi dodol dan wajik. Dusun ini dapat menghasilkan sekitar 5 Kg serbuk kopi salak dalam sehari, yang dikerjakan oleh ibu-ibu PKK setempat. Harga jualnya adalah sekitar Rp. 80.000,- per kilogram.

3. Wonosobo

Salah satu daerah penghasil salak adalah Wonosobo Jawa Tengah. Beberapa pengusaha muda mulai mengolah biji salak menjadi bubuk minuman bernilai ekonomi. Harga jual dari minuman ini adalah Rp. 15.000,- per 100 gram.

Cara pengolahan biji salak menjadi serbuk minuman ini dimulai dengan memilah biji salak dengan kondisi baik, kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari atau dengan pengasapan sampai kandungan air-nya habis. Penjemuran di bawah sinar matahari memerlukan waktu hingga satu minggu. Tahapan selanjutnya adalah menggorengnya tanpa minyak (sangrai), tingkat kepahitan bergantung juga pada tingkat kematangan saat memasak. Selanjutnya biji salak yang sudah matang didinginkan dan dihaluskan, baik dengan cara ditumbuk maupun dengan mesin. Untuk menikmatinya tinggal diseduh dengan air panas dan dicampur dengan gula pasir.

produk biji salak

sumber:

http://www.sayangi.com/gayahidup1/kuliner/read/14566/kopi-biji-salak-si-hitam-dari-tapanuli-selatan

http://www.iapnews.co.id/warga-sleman-kembangkan-biji-salak-jadi-kopi-bubuk/

http://jogja.tribunnews.com/2015/02/15/kopi-biji-salak-donokerto-solusi-ngopi-bagi-penderita-hipertensi

http://www.varia.id/2015/05/24/kopi-biji-salak-bikin-mata-terbelalak/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s